👑 Warisan Kerajaan Nusantara

BAGIAN I ~

A Javanese woman in traditional attire holds a teapot and ornate box, reflecting Indonesian culture.

Di antara jejak-jejak sejarah tersebut, ditemukan sebuah kata yang menarik perhatian para peneliti.”Dwadwal.”

masa ketika kerajaan-kerajaan besar berdiri di Nusantara, ketika prasasti dipahat di atas batu, dan ketika para pujangga menuliskan kehidupan masyarakat dalam lembaran naskah kuno.

Sebuah nama yang tercatat dalam Kakawin Ramayana pada abad ke-9, serta diabadikan dalam prasasti-prasasti kuno yang berasal dari masa Kerajaan Medang. Bagi para ahli, kata inilah yang dipercaya sebagai bentuk awal dari kata yang kini kita kenal sebagai dodol.

Saat sebagian besar makanan hanya hidup dalam ingatan dan cerita lisan, dodol justru meninggalkan jejaknya pada batu-batu sejarah yang mampu bertahan hingga lebih dari seribu tahun.

Setiap potong dodol yang dinikmati hari ini seolah menjadi penghubung antara masa kini dan masa ketika kerajaan-kerajaan Nusantara masih berjaya.

Namun perjalanan dodol tidak berhenti di tanah Jawa.
Seiring berkembangnya perdagangan maritim, para pelaut, pedagang, dan bangsawan membawa tradisi kuliner ini melintasi sungai, laut, dan selat yang menghubungkan berbagai wilayah Nusantara.

Bayangkan sejenak…Jauh sebelum lampu-lampu kota menerangi malam Pontianak, sebelum kapal-kapal modern berlayar melintasi Laut Natuna, bahkan sebelum Indonesia dikenal sebagai sebuah bangsa, telah ada sebuah cita rasa yang dinikmati oleh masyarakat Nusantara.

Scroll to Top