BAGIAN I ~
SEBUAH RASA YANG
MENEMBUS
SERIBU TAHUN
Bayangkan sejenak…Jauh sebelum lampu-lampu kota menerangi malam Pontianak, sebelum kapal-kapal modern berlayar melintasi Laut Natuna, bahkan sebelum Indonesia dikenal sebagai sebuah Bangsa, telah ada sebuah cita rasa yang dinikmati oleh masyarakat Nusantara.
“CITA RASA ITU ADALAH DODOL”


Hari ini, dodol dikenal sebagai salah satu warisan kuliner Nusantara yang paling dicintai. Hadir dalam berbagai perayaan, tradisi keluarga, dan momen istimewa, kelezatannya telah menemani banyak generasi. Namun di balik rasa manisnya, tersimpan perjalanan panjang yang membentang melintasi abad, menghubungkan budaya, perdagangan, dan sejarah yang membentuk identitas kuliner Indonesia.
Di antara jejak-jejak sejarah tersebut, ditemukan sebuah kata yang menarik perhatian para peneliti.”Dwadwal.”

Bayangkan betapa istimewanya temuan ini.
masa ketika kerajaan-kerajaan besar berdiri di Nusantara, ketika prasasti dipahat di atas batu, dan ketika para pujangga menuliskan kehidupan masyarakat dalam lembaran naskah kuno.
Sebuah nama yang tercatat dalam Kakawin Ramayana pada abad ke-9, serta diabadikan dalam prasasti-prasasti kuno yang berasal dari masa Kerajaan Medang. Bagi para ahli, kata inilah yang dipercaya sebagai bentuk awal dari kata yang kini kita kenal sebagai dodol.


Saat sebagian besar makanan hanya hidup dalam ingatan dan cerita lisan, dodol justru meninggalkan jejaknya pada batu-batu sejarah yang mampu bertahan hingga lebih dari seribu tahun.
Setiap potong dodol yang dinikmati hari ini seolah menjadi penghubung antara masa kini dan masa ketika kerajaan-kerajaan Nusantara masih berjaya.
Namun perjalanan dodol tidak berhenti di tanah Jawa.
Seiring berkembangnya perdagangan maritim, para pelaut, pedagang, dan bangsawan membawa tradisi kuliner ini melintasi sungai, laut, dan selat yang menghubungkan berbagai wilayah Nusantara.

Seiring berkembangnya perdagangan maritim, para pelaut, pedagang, dan bangsawan membawa tradisi kuliner ini melintasi sungai, laut, dan selat yang menghubungkan berbagai wilayah Nusantara.

Di sanalah sebuah babak baru dalam sejarah dodol dimulai.
→ Lanjut ke Bagian II: Dari Istana Melayu ke Tanah Borneo
Bayangkan sejenak…Jauh sebelum lampu-lampu kota menerangi malam Pontianak, sebelum kapal-kapal modern berlayar melintasi Laut Natuna, bahkan sebelum Indonesia dikenal sebagai sebuah bangsa, telah ada sebuah cita rasa yang dinikmati oleh masyarakat Nusantara.
